WhatsApp Icon

Subirman, Sosok Pertama yang Berzakat Sawit ke Baznas Sijunjung

17/09/2026  |  Penulis: Lindo Karsyah, S.S, M.IP

Bagikan:URL telah tercopy
Subirman, Sosok Pertama yang Berzakat Sawit ke Baznas Sijunjung

Dokumentasi BAZNAS KABUPATEN SIJUNJUNG

Ia Adalah Orang Pertama yang Mengajarkan Sijunjung Bahwa Zakat Juga Tumbuh dari Pelepah Sawit.

Jika di Kamang Baru orang menyebut kata sawit, ingatan akan tertuju pada hamparan hijau yang tak bertepi, pada bunyi mobil yang mengangkut tandan, dan pada janji kesejahteraan. Namun di Jorong Galogah, Nagari Kamang, sawit memiliki makna lain. Sawit adalah ibadah. Sawit adalah doa yang dipanjatkan lewat jalan zakat.

Dan doa itu pertama kali dipanjatkan oleh seorang Datuk. Namanya Subirman. Orang-orang memanggilnya Datuak Siajo. Gelar adatnya bukan sekadar hiasan. Ia adalah sosok yang ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah. Kata-katanya didengar, langkahnya diikuti. Tapi dari semua kemuliaan adat itu, ia memilih satu kemuliaan yang paling sunyi: menjadi orang pertama di Kabupaten Sijunjung yang menunaikan zakat sawit melalui BAZNAS.

Di tengah banyak orang yang masih ragu, masih menghitung untung rugi, Datuak Siajo justru melangkah. Setiap bulan, tanpa pernah alpa, dari setiap tetes keringat dan setiap tandan yang ia panen dari hektaran kebunnya, ia sisihkan Rp 1.000.000. Bukan untuk ditabung, tapi untuk dibersihkan. Hingga hari ini, Rp 15.000.000 telah ia titipkan di BAZNAS Kabupaten Sijunjung. Angka yang jika diuangkan mungkin tak seberapa, tapi jika ditimbang dengan keikhlasan, ia menjelma menjadi gunung.

"Kenapa harus ke BAZNAS?"

Pertanyaan itu pernah ia bawa ke Kepala KUA setempat. Hatinya gelisah, ia ingin hartanya tidak hanya sah, tapi juga sampai. Jawaban KUA itu menenangkan sekaligus meneguhkan.Bagi Datuak Siajo, berzakat ke BAZNAS bukan sekadar menyetor. Ia punya alasan yang sangat rasional dan sangat spiritual. Pertama, ia ingin zakatnya dikelola dengan terarah, akuntabel, dan tepat sasaran kepada delapan asnaf yang benar-benar berhak. Ia tidak ingin zakatnya hanya menggugurkan kewajiban. Ia ingin zakatnya menyelesaikan persoalan.

Kedua, ia ingin zakatnya menjadi solusi, bukan sekadar bantuan. Dan terbukti. Kolaborasi diam-diam antara Datuak Siajo dan BAZNAS Sijunjung telah menegakkan harapan dalam bentuk yang paling nyata: 4 buah Rumah Layak Huni telah berdiri kokoh untuk kaumnya sendiri, kaum Subirman di Jorong Galogah. Bukan rumah mewah. Tapi rumah yang tidak bocor ketika hujan. Rumah yang punya lantai yang tidak lagi tanah. Rumah yang mengembalikan marw ah saudara-saudaranya.

Dari sawitnya, rumah-rumah itu bangun. Inilah zakat yang menjelma menjadi dinding dan atap. Namun, Datuak Siajo bukanlah menara gading yang hanya menitip lewat lembaga. Sore hari, setelah menyetor ke BAZNAS, ia masih berjalan kaki, mengetuk pintu tetangga di Galogah, mengantarkan sebagian rezekinya dengan tangannya sendiri. Menatap mata mereka. Mendengar keluh mereka. Ia percaya, zakat harus punya dua kaki: satu kaki yang terlembaga agar kuat dan luas, dan satu kaki yang personal agar hangat dan dekat. Kepedulian itu ternyata warisan. Darah dermawan itu mengalir dari ayahandanya, Datuak Umar. Setiap Ramadan tiba, sang ayah tak pernah absen menyetorkan zakat sawitnya sebesar Rp 12.000.000 ke BAZNAS Sijunjung. Ayah dan anak. Dua generasi. Satu jalan yang sama: bahwa panen terbaik bukanlah yang paling banyak tonasenya, tapi yang paling banyak berkahnya.

Kini, ketika truk-truk sawit melintasi Kamang Baru, orang-orang tidak hanya melihat buah. Mereka melihat teladan. Mereka melihat jejak Datuak Siajo. Ia telah membuktikan, seorang Datuak tidak hanya menjaga adat, tapi juga menjaga umat. Tidak hanya ditinggikan seranting karena gelar, tapi ditinggikan seranti karena amal. Dari hamparan sawit Galogah, dari tangan seorang Datuak Siajo, Sijunjung belajar bahwa keberkahan itu tidak dipanen, tapi ditunaikan.

 

Bagikan:URL telah tercopy

Berita Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kabupaten Sijunjung.

Lihat Daftar Rekening →