Inspirasi! 15 Tahun Perjuangan Wali Nagari Zainal, Ubah Nagari Guguak Jadi Kampung Zakat Raup Rp 100 Juta
09/09/2026 | Penulis: Lindo Karsyah, S.S., M.IP
Dokumentasi BAZNAS KABUPATEN SIJUNJUNG
SIJUNJUNG- Matahari tegak lurus di atas kepala ketika jarum jam baru merambat ke angka sebelas siang. Di bawah langit Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, kedamaian pagi di Kantor Wali Nagari Guguak mendadak berubah hangat oleh ketukan langkah kaki seorang perempuan.
Ia melangkah masuk membawa ketulusan yang polos. Sambutan hangat dari nagari langsung menerimanya di pintu. Tanpa berbasa-basi, dari bibirnya terucap niat yang luhur ia datang untuk menunaikan zakat pertanian, menyucikan hasil bumi yang telah menghidupinya.
Seketika, petugas Unit Pengumpulan zakat (UPZ) setempat bergegas mempersilahkannya duduk. Jemari petugas dengan sigap menyiapkan selembar kertas kuitansi, sementara sang ibu menyerahkan seikat uang senilai satu juta rupiah lebih sebuah nominal yang bukan sekedar angka, melainkan simbol peluh dan rasa syukur yang tunai.
Belum kering tinta di atas kertas kuitansi itu, bunyi langka di lantai kantor kembali terdengar. Seorang ibu paruh baya melangkah masuk dengan binar mata yang sama. Langkah dan maksudnya serupa, ingin menggenapi kewajiban suci yang berakar dari tanah yang mereka garap.
Tak jauh dari meja UPZ, sang Wali Nagari bernama Zainal duduk menyaksikan pemandangan itu. Sepasang matanya berbinar, memantulkan senyum dan wajah yang seketika mencerah. Baginya, ketukan langkah kaki para ibu itu bukan sekedar urusan administrasi, melainkan gema dari sebuah perjuangan panjang.
"Ini hasil kerja yang dimulai dari 15 Tahun yang lalu," kenangnya lirih.
Dalam senyum Zainal, ada untaian waktu belasan tahun yang lalu. Waktu di mana benih kesadaran itu mulai ditanam, dirawat dengan kesabaran, hingga kini berbuah menjadi kesadaran kolektif yang tumbuh subur di hati masyarakat Nagari Guguak.
Langkah awalnya dimulai dari kaumnya sendiri, Suku Melayu. Usaha telaten itu membuahkan hasil manis ketika Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Suku Melayu resmi terbentuk dan mampu mengubah nasib sanak kemenakan yang membutuhkan.
Sukses di rumah sendiri menjadi pijakan Zainal untuk melangkah lebih jauh. Ia bersila bersama 10 ninik mamak dan manti di Masjid Buluh Rotan. Diskusi mendalam digelar untuk menyatukan visi. Tanpa sedikit pun mengikis wewenang adat atau melanggar asnaf, Zainal membuktikan bahwa zakat yang terkelola rapi mampu menjadi jembatan kebaikan bagi seluruh warga Nagari Guguak.
Di hadapan para pemangku adat dan ulama tersebut, sebuah gagasan besar dihembuskan zakat tak lagi boleh berjalan sendiri-sendiri di tiap suku. Pengelolaan yang tadinya terpecah di tangan masing-masing ninik mamak, kini didorong untuk menyatu dalam satu wadah di tingkat nagari.
"Kalau dikumpulkan di satu pintu, penyalurannya jauh lebih terarah dan merata untuk saudara-saudara kita yang fakir dan miskin," menjadi narasi utama yang merekatkan kesepahaman.
Gagasan itu disambut hangat. Lewat bahu-membahu antara ninik mamak sebagai pengayom adat dan malin sebagai pilar agama, kesepakatan besar pun terukir. Kini, aliran zakat dari seluruh pelosok nagari bermuara di Kantor Wali Nagari Guguak. Berpindahnya pusat pengelolaan ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan langkah nyata menjadikan zakat lebih efektif, transparan, dan tepat merengkuh mereka yang membutuhkan.
Konsensus pun tercapai. Kesepakatan tersebut sudah disepakati oleh seluruh ninik mamak di Nagari Guguak dan tokoh masyarakat bahwasanya zakat dikumpulkan pada satu tempat yaitu UPZ Nagari Guguak.
Zainal bukan tipe pemimpin yang betah mengurung diri di balik meja kerja atau tenggelam dalam debat teori di ruang rapat. Saat musim panen menyapa, kemeja rapinya berganti menyusuri pematang sawah yang becek. Tanpa sekat dan tanpa canggung, ia menjabat tangan para petani, duduk berdiskusi santai sembari membumikan konsep zakat pertanian di tengah hembusan angin sawah.
Langkahnya tak berhenti di pematang. Ia bergerak mengetuk pintu-pintu lapak pedagang pasar mengajak mereka menunaikan sebagian zakat penghasilan, infak, dan sedekah. Zainal paham betul bahwa untuk menggerakkan hati banyak orang, tindakan nyata jauh lebih nyaring daripada ribuan kata. Baginya, keteladanan pribadi adalah "bahan bakar" utama untuk menyalakan semangat berbagi dari akar rumput.
Lewat pendekatan dari hati ke hati dan keteladanan pribadi, ia mengedukasi warga akan pentingnya menyisihkan zakat penghasilan, infak, dan sedekah.
Hasilnya terbukti konkret. Pengelolaan dana umat yang dulunya terserak kini terkoordinasi rapi. Nagari Guguak mencatatkan rekor fenomenal di tingkat nagari kawasan tersebut dengan berhasil menghimpun zakat hingga Rp100 juta lebih per tahun.
Sadar bahwa anggaran nagari tak akan cukup untuk memutus rantai kemiskinan struktural sendirian, Zainal memegang teguh filosofi bulek aia dek pembuluh, bulek kata dek mufakat. Berbekal data empiris warga yang berada dalam kondisi terpuruk secara ekonomi sekaligus tak berdaya secara social ia bertandang ke tingkat kabupaten untuk menjalin kolaborasi erat bersama BAZNAS Kabupaten Sijunjung.
Langkah transparan ini menjadi magnet kebajikan yang kuat. Akuntabilitas yang dijaga ketat lewat laporan keuangan terbuka di masjid dan surau lokal memupuk kepercayaan publik. Uluran tangan pun berdatangan tanpa henti. Nagari Guguak bertransformasi menjadi pilot project yang diguyur berbagai program strategis, mulai dari bedah rumah tidak layak huni, suntikan modal usaha, hingga beasiswa pendidikan yang disokong BAZNAS Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat.
Kini, raut duka warga perlahan berganti senyum optimisme. Tak berhenti di situ, Wali Nagari bersama Sekretaris Nagari bahkan tengah merancang skema beasiswa hingga jenjang perguruan tinggi demi memastikan anak-anak nagari meraih masa depan setinggi-tingginya.
Jejak kepemimpinan Zainal telah mengukir cetak biru nyata: kemiskinan bisa dijinakkan ketika seorang pemimpin berani merangkul akar rumput, menyinergikan seluruh sektor, serta memadukan syariat dengan adat Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah. Dari Bumi Lansek Manih, pendar inspirasi itu kini menyala terang, siap menyulut semangat para kepala desa dan wali nagari lainnya di seantero Sumatera Barat itulah Guguak, sebuah Kampung Zakat.
Berita Lainnya
KETUA PENGADILAN AGAMA KUNJUNGI BAZNAS SIJUNJUNG
SHERLY DARI PALANGKI SELESAIKAN PENDIDIKAN GRATIS DI SCB BOGOR
BAZNAS SIJUNJUNG SALURKAN HAMPIR 100 JUTA DANA ZAKAT BANTU MAHASISWA KURANG MAMPU
HAMPIR 400 JUTA BAZNAS SIJUNJUNG BAGIKAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN UNTUK LEBIH DARI 1000 SISWA KURANG MAMPU
BAZNAS SIJUNJUNG RAIH OPINI WTP KE 6
BANTU WARGA MISKIN, BAZNAS SIJUNJUNG SALURKAN ZAKAT BANTU PENGADAAN AIR BERSIH
BAZNAS SIJUNJUNG LAKSANAKAN SOSIALISASI ZAKAT DI LUBUK TAROK
SALURKAN DANA ZAKAT, BAZNAS SIJUNJUNG BANTU BIAYA PENDIDIKAN PEMUDA DISABILITAS DI BOGOR
MARLINA PENERIMA BEA SISWA SANASSIB BAZNAS SIJUNJUNG BERHASIL RAIH SARJANA PENDIDIKAN
KAKAN KEMENAG SIJUNJUNG KUNJUNGI BAZNAS SIJUNJUNG
HAFIZA HANNA WARGA NAGARI BUKIT BUAL BERHASIL JADI SISWA SCB BOGOR
OPTIMALISASI PENGELOLAAN ZAKAT, BAZNAS SIJUNJUNG ADAKAN RAKOR DENGAN KEPALA SD SE KECAMATAN SIJUNJUNG
BUBER ALA BAZNAS SIJUNJUNG
BUPATI SIJUNJUNG LOUNCING PENDISTRIBUSIAN TAHAP I TAHUN 2026 BANTUAN BIAYA HIDUP FAKIR MISKIN
BAZNAS SIJUNJUNG SALURKAN ZAKAT BANTU PENDERITA STRUK

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kabupaten Sijunjung.
Lihat Daftar Rekening →